Antara Tua dan Dewasa

Beberapa hari yang lalu, saya mengirimkan tweet yang bisa dibilang jarang sekali saya membuat tweet yang sebijak itu. Tidak tahu kenapa, apakah ini pertanda kalau sebentar lagi saya akan meninggalkan usia belasan tahun dan menuju dunia baru dengan usia 20 tahun. Kurang lebih tweet yang saya kirim kala itu seperti ini:

Selain saya kirim ke twitter, kata-kata tersebut juga saya kirim lewat akun facebook saya. Walaupun di twitter tidak ada satupun yang me Retweet kalimatku ini, tapi setelah saya post di Facebook, ternyata lumayan juga yang nge-like. Oke, lanjut ke pokok masalah. Untuk kali ini saya akan menjabarkan dan menguraikan makna dari tweet yang sudah saya kirimkan pada tanggal 2 Februari tersebut. Jika diuraikan, makna tersebut dibagi menjadi 4 buah bagian, yaitu:

  • Menjadi tua itu pasti

Setiap detik waktu yang sudah kita habiskan di dunia ini pastinya akan membuat umur kita semakin bertambah. Dengan bertambahnya umur, pasti akan membuat diri kita semakin tua.  Adakah manusia yang mampu mengendalikan waktu yang terus bergulir ini? Pastinya tidak satupun yang mampu melakukannya.Tak ada orang satupun yang mampu melewati proses menjadi tua ini. Terkecuali orang yang meninggal sebelum ia tua.  Intinya walaupun kita berusaha untuk menjadikan diri kita selalu muda, kita akan selalu kehilangan waktu dan mau tak mau pasti akan menjadi tua.  So, menjadi tua itu pasti.

  • Menjadi dewasa itu pilihan dan sulit untuk menggapainya

Dewasa? Dewasa yang saya maksud disini bukanlah dewasa secara fisik, melainkan dewasa dari cara berpikir dan secara psikologisnya. Anda bisa mencari makna dewasa secara psikologis lewat bantuan Google. Tidak semua orang bisa menjadi dewasa secara otomatis. Ia harus mengubah cara berpikirnya sendiri menjadi lebih baik. Tanpa perubahan ke arah yang lebih baik itu, setiap orang tak akan mampu untuk menjadi dewasa.  Mengapa saya bilang kalau sulit untuk menggapai kedewasaan? Karena saya sendiri sudah mencoba untuk menjadi manusia yang lebih dewasa dan sangat sulit buat menggapai itu semua. Jadi intinya menjadi dewasa berawal dari  diri sendiri.  Jika ingin menjadi dewasa, tentukan dari sekarang. Karena menjadi dewasa itu pilihan.

  • Tua belum tentu dewasa

Pernahkah anda melihat perkelahian/percekcokan yang dilakukan oleh wakil rakyat kita saat mereka mengadakan rapat di Gedung DPR? Jika pernah, apakah menurut anda mereka masih belum tergolong dalam kategori tua? Secara umur, mereka pasti lebih tua dari saya. Tapi kelakuan mereka tak lebihnya seperti anak kecil yang berebut sesuatu. Tidak bisakah mereka merundingkannya dan berfikir secara dewasa? Selain contoh wakil rakyat tersebut, banyak di sekitar kita orang yang sudah tua tapi belum bisa berfikir secara dewasa(termasuk saya :D). Jadi intinya, umur yang tua tidak bisa menjamin pola pikir kita menjadi dewasa.

  • Menjadi dewasa tak perlu tua

Apakah untuk menjadi manusia dengan pola pikir dewasa harus menunggu menjadi tua? Menurut pendapat saya, jika ingin menjadi pribadi dengan pola pikir dewasa, kita bisa melakukannya dari sekarang. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, kalau menjadi dewasa itu piihan. Jika anda tidak memilihnya, maka selamanya anda tidak akan menjadi dewasa. Jadi, menjadi dewasa tidak perlu tua.

Mungkin itu hanya pendapat saya mengenai keterkaitan antara dewasa dan tua. Jika anda mempunyai uneg-uneg mengenai post saya ini, silahkan cantuman pada komentar di bawah. Insya Allah secepatnya akan saya tanggapi. Sekian😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s